Bunga Rampai Ahlussunnah Wal Jamaah


 

Bunga Rampai Ahlussunnah Wal Jamaah

Penulis: DR. M. DINY MAHDANY, M.Pd.I

ISBN: 978-623-93486-2-5

 

Sinopsis

Tidak sedikit orang yang meragukan golongan Asy’ariyah - Maturidiyah adalah golongan yang selamat atau”al-firqoh al-najiyah”, bahkan tidak sedikit yang mengatakan bahwa hal itu hanyalah klaim dari Asy’ariyah - Maturidiyah agar mendapat pengikut yang banyak. Lebih parah lagi, terkadang yang menjadi masalah adalah ketidaktahuan akan sejarah dan ajaran golongan ini justru dialami oleh para pengikutnya, hingga tak pelak lagi hal ini menjadi pusat serangan dari golongan lain untuk menyerang golongan Asy’ariyah - Maturidiyah dan melegitimasi golongan mereka. Gejolak dan pertentangan dalam akidah ini pasti akan terus terjadi hingga akhir zaman, lebih – lebih kondisi saat ini, dimana setiap golongan tersebut justru menklaim bahwa golongan mereka lah yang benar dan menvonis bahwa golongan yang lain adalah sesat.

   Dapatkah Ahlussunnah Wal-Jama’ah membuktikan kebenaran dirinya terutama dari aspek kesejarahan dan keilmuwan? Demikian pertanyaan yang tidak jarang kita dengar akhir-akhir ini, terutama sejak mengalirnya sekian banyak arus pemikiran yang begitu deras di tanah air bersamaan dengan hadirnya sekian banyak kajian ilmiah para pakar dalam berbagai bidang studi keislaman kontemporer terutama kajian-kajian yang menitikberatkan terhadap aspek-aspek kesejarahan. Tak pelak, ideologi Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang selama ini menjadi mainstream dan keyakinan masyakat Nahdliyyin pada umumnya dan masyarakat pesantren pada khususnya, serta diklaim sebagai satu-satunya al-firqah al-najiyah di antara sekian banyak sekte-sekte yang berkembang di dunia Islam, mendapat tuntutan dan desakan dari berbagai pihak untuk dilakukan eksplorasi ilmiah lebih jauh agar sedapat mungkin dapat dibuktikan kebenarannya terutama dari aspek kesejarahan dan keilmuwan.

Apalagi arus pemikiran yang mengalir deras di tanah air dewasa ini diwarnai pula oleh merebaknya sekian banyak paham yang menyimpang dari Ahlussunnah Wal-Jama’ah, seperti paham tajsim (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), takfir (pengkafiran terhadap sesama Muslim), tabdi’ (penilaian bid’ah terhadap ajaran dan amaliah Islami), pengingkaran terhadap tashawuf, pengingkaran terhadap mazhab fiqih yang empat, pengingkaran terhadap bidang studi ilmu akidah dan lain-lain. Dan anehnya, di antara kelompok yang mengusung paham-paham tadi, ada yang tidak segan-segan menamakan dirinya kelompok salafi dan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, padahal mereka sangat memusuhi terhadap ajaran ulama salaf yang saleh dan Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Dari sini, banyak pihak yang mengutarakan urgensitas penajaman dalam pemahaman dan wawasan akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, terutama dari aspek kesejarahan, agar dapat menjawab keprihatinan banyak kalangan tentang gugatan hakikat dan kebenaran akidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah yang selama ini mereka yakini sebagai al-firqah al-najiyah.

Oleh karena itu, tulisan ini sengaja dihadirkan - tanpa bermaksud mengklaim muluk-muluk, sebagai tawaran dan kontribusi sederhana yang barangkali dapat mengobati sebagian keprihatinan tadi dan sekaligus dapat menjawab sebagian pertanyaan di atas. Dan oleh karena, pertanyaan di atas sifatnya kajian ilmiah yang jawabannya harus bersifat kajian ilmiah pula, maka sedapat mungkin sajian pokok yang dihadirkan buku ini lebih menekankan argumentasi ilmiah dan sesuai dengan kaedah-kaedah keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dengan lebih menitikberatkan terhadap bukti-bukti kesejarahan. Dan tentu dalam penyajian buku ini, diupayakan sedapat mungkin dapat menghindari istilah-istilah teknis dalam dunia keilmuan modern, sehingga sajian-sajian buku ini nantinya dapat dipahami oleh siapa pun yang membacanya.

Berkaitan dengan sumber referensi yang menjadi rujukan dalam sajian buku ini, semaksimal mungkin penulis berupaya memilih sumber-sumber standard yang diapresiasi oleh para pakar dalam bidangnya masing-masing, yang dalam istilah tradisi keilmuan kita disebut dengan al-kutub mu’tabarah. Disamping penulis juga berupaya memilih riwayat-riwayat yang kuat, sahih dan moderat, serta menghindari dari menyajikan riwayat-riwayat lemah dan ekstrim yang tidak sedikit berserakan dalam buku-buku sejarah, sehingga sajian dalam buku ini nantinya lebih dapat diterima oleh semua pihak.

Selanjutnya dalam sistematika dan metodologi penyajian materi buku ini, pada bagian pertama penulis membentangkan latar belakang lahirnya kelompok-kelompok dalam Islam dengan penelusuran yang dimulai dari sejak pemba’iatan Khalifah Abu Bakar Al-Shiddiq (51 SH-13 H/573-634 M) – radhiyallahu ‘anhu wa karramallahu wajhah – sampai dengan terjadinya proses arbitrase (tahkim) pasca peperangan Shiffin antara kelompok Sayidina Ali ibn Abi Thalib (23 SH-40 H/600-661 M) – karramallahu wajhah -, dan kelompok Sayidina Mu’awiyah ibn Abi Sufyan (20 SH-60 H/603-680 M) – radhiyallahu ‘anhuma.

Pada bagian dua, selanjutnya penulis berupaya menguraikan hakikat Ahlussunnah Wal-Jama’ah dengan menitikberatkan kajian terhadap trilogi ajaran yang menjadi unsur kesempurnaan Ahlussunnah Wal-Jama’ah, yang dalam hadits Rasulullah saw. – yang populer dengan Hadits Jibril - disebut dengan islam, iman dan ihsan, dan dalam istilah disiplin ilmu pengetahuan keislaman disebut dengan fiqih, akidah dan tashawuf, dengan membentangkan dalil-dalil kebenarannya, terutama dari aspek kesejarahan.

Selanjutnya perlu digarisbawahi di sini, bahwa sajian-sajian dalam buku ini semata-mata rangkuman dari hasil kajian ilmiah sekian banyak pakar dalam bidangnya masing-masing. Sehingga manakala dalam buku ini nantinya terdapat sajian yang benar dan patut dihargai, maka hal itu semata-mata kembali kepada para pakar yang penulis kutip pendapatnya. Dan sebaliknya, manakala dalam buku ini terdapat kekeliruan atau kekurangan, maka hal tersebut kembali kepada kekurangan dan keterbatasan penulis.

Dan selanjutnya, penulis merasa yakin, bahwa di antara kita tidak sedikit para pakar yang menekuni bidang studi Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Pakar-pakar sejarah Ahlussunnah Wal-Jama’ah pun juga banyak. Di antara mereka, yang berkenan membaca buku ini, dituntut oleh amanat ilmiah yang mereka sandang, untuk memberikan tegur sapa, kritik dan penyempurnaan terhadap kesalahan dan kekurangan dalam buku ini.


 


 

Posting Komentar

0 Komentar